VIVAnews - Jepang mengungkapkan bahwa perdagangannya pada 2011 mengalami defisit. Ini merupakan kali pertama bagi Jepang menderita defisit dalam lebih dari 30 tahun terakhir.
Tahun 2011 merupakan masa yang berat bagi Jepang. Belum pulih dari resesi global, pada 11 Maret 2011 kawasan timur laut Jepang hancur akibat gempa bumi dan tsunami. Situasi itu memukul ekspor Jepang, yang juga terpengaruh dengan situasi keuangan global yang tengah labil akibat krisis utang di zona euro dan masalah finansial di AS.
Kementerian Keuangan Jepang hari ini, seperti dikutip kantor berita Reuters, memaparkan data bahwa negeri mereka mengalami defisit perdagangan sebesar 2,49 triliun yen (US$32 miliar) pada 2011. Ini merupakan sejarah baru mengingat Jepang sebelumnya tidak pernah mengalami defisit sejak 1980.
Total ekspor Jepang tahun lalu turun 2,7 persen, sedangkan impor naik 12 persen. Ini menandakan turunnya pendapatan Jepang dari sektor barang dan jasa serta naiknya belanja minyak mentah dan bahan bakar minyak.
Bencana alam tahun lalu juga menyebabkan Jepang bermasalah dengan ketersediaan energi. Pasokan energi berbasis nuklir terganggu setelah bocornya reaktor di Fukushima akibat tsunami. Ini mengakibatkan Jepang harus menutup reaktor nuklir karena belum terjaminnya faktor keselamatan dari radiasi.
Kesulitan itu menambah pukulan bagi Jepang. Menurut kalangan pengamat, untuk sementara Jepang harus mengandalkan tabungan sehingga berpotensi melepas status sebagai negara kreditur murni.
"Jepang menjadi tergantung pada tabungan global untuk menutupi defisitnya maupun untuk menanggulangi lemahnya nilai tukar mata uang atau naiknya suku bunga," kata Jesper Koll, pengamat dari JPMorgan Jepang yang dikutip Reuters. (adi)