Fokus

Alexander, Ateis di Negeri Bersendi Syarak

Dia dituding mengelola grup Ateis Minang di Facebook. Dirangkul, bukan dipukul.

Minggu, 22 Januari 2012, 22:44 WIB
Arfi Bambani Amri, Eko Huda S, Eri Naldi - Padang
Umat Islam di Sumatera Barat melakukan salat yang diperintahkan Tuhan (ANTARA/Iggoy el Fitra)

VIVAnews - Alexander, 30 tahun, seorang calon pegawai negeri sipil di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Dharmasraya, mengundang heboh ketika ketahuan menjadi pembuat halaman "Ateis Minang" di Facebook. Aan, begitu Alexander dipanggil, nyaris diamuk massa sebelum akhirnya diamankan polisi.

"Di grup Ateis Minang, Alex menjadi adminnya. Di situ dia membuat tulisan, intinya tidak percaya Tuhan dan agama," ujar Kepala Kepolisian Resor Dharmasraya, Ajun Komisaris Besar Chairul Aziz, saat berbincang dengan VIVAnews.com, Jumat 20 Januari 2012.

Menurut Chairul, dalam tulisan di grup itu, Alexander menggunakan Al-Quran dan cerita nabi-nabi Islam sebagai bahan kajian. "Dengan kisah-kisah itu timbul ketidakpercayaan pada Islam. Ada dialog-dialognya," kata dia.

Chairul mengatakan, tulisan-tulisan Aan itu kemudian mendapat tanggapan dari orang-orang yang bergabung dengan grup Facebook yang dibikinnya. Banyak hujatan dialamatkan kepada Aan yang semula belum diketahui identitasnya itu. "Tulisan Aan itu menjadi polemik dan konflik. Ada tanya jawab dan saling hujat," ujar Chairul.

Perdebatan di dunia maya itu segera menyebar. Sejumlah orang kemudian berusaha mencari siapa sebenarnya pemilik grup Ateis Minang ini. "Kemudian dilacak oleh masyarakat, ketemu dan ternyata pegawai Pemda. Saat ketemu dia sedang buka Facebook juga," kata Chairul.

Mereka kemudian terlibat perdebatan dengan Aan. Di hadapan mereka, Aan terang-terangan menyatakan tidak mengakui keberadaan Tuhan. Seperti diberitakan koran terbitan Padang, Singgalang, Aan menyatakan, "Kalau memang ada Tuhan, mengapa ada kejahatan, kemiskinan. Saya tak percaya surga serta neraka. Oleh sebab itu, sudah merupakan premis saya Tuhan itu tidak ada."

"Masyarakat jadi tidak suka, sempat dipukul. Kemudian Aan melapor ke Polsek dan diamankan untuk keselamatannya," ujar Chairul.

Awalnya Aan diamankan di markas Polsek Pulau Punjung. Polisi memindahkan Alex ke Markas Polres Dharmasraya untuk keamanannya. Saat diperiksa polisi, Alex juga secara terang-terangan mengakui sebagai ateis.

Tak bisa diterima

Sejumlah organisasi massa dan Majelis Ulama Indonesia setempat melaporkan Aan ke polisi dengan tudingan penodaan agama karena menggunakan Al Quran dan cerita-cerita Nabi untuk menyatakan ketidakpercayaannya pada Tuhan.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Cabang Sumatera Barat Syamsul Bahri Khatib pun menyayangkan sikap Alexander yang membawa nama Minang. "Ini melukai seluruh masyarakat Minang, sendi dasar agama sudah dirusak," kata Syamsul Bahri Khatib pada VIVAnews. Minang, suku utama di Sumatera Barat, memang memiliki filosofi "Adat bersendi syarak (agama), syarak bersendi kitabullah."

Menurut Buya Syamsul, sikap anti tuhan yang disebarkan pemilik akun Facebook Alexander Aan ini bertentangan dengan semua agama. Bahkan, keyakinan yang dipertahankan Alex itu dinilainya tidak cocok berkembang di Indonesia. "Ini kan bertentangan dengan Pancasila, tentunya paham ateis tidak bisa diterima di Indonesia," katanya.

Berkembangnya pemikiran ateis tersebut, menurutnya, tidak sepenuhnya bisa menyalahkan sejumlah pihak seperti ulama. Menurutnya, persoalan keyakinan seseorang yang sudah dewasa sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi. "Pertanyaannya, bukan di mana peran ulama, tapi di mana ia belajar seperti itu?"

Polisi kemudian memeriksa apakah laporan itu memenuhi unsur-unsur yang dituduhkan. "Kami cari pasal-pasalnya, ternyata memenuhi unsur pidana penodaan agama. Dia terkena Pasal 156a KUHP Ayat 1 dan 2," kata Chairul.

Alumnus Statistik Universitas Padjajaran, Bandung, itu pun diancam dengan pasal lain yang diatur dalam Undang-undang Informatika dan Transaksi Elektronik. Total, Alexander diancam dengan Pasal 27 ayat 3 UU ITE, Pasal 156 A KUHPidana tentang penodaan agama dan Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat dengan ancaman masing-masing 6 tahun penjara.

Polisi pun memutuskan untuk menahan Aan. "Aan ditahan di Polres karena ancaman hukumannya lebih dari lima tahun. Selain itu, penahanan akan lebih aman bagi dia karena masyarakat yang resah semakin marah kepadanya," ujar Chairul.

Dirangkul, bukan dipukul

Zuhairi Misrawi, Direktur Moderate Muslim Society, mengimbau polisi untuk tidak membawa Aan ke pengadilan. Menurut Gus Mis, pasal "penodaan agama" sebaiknya tidak dipakai karena berpotensi melebarkan masalah sehingga justru tidak menyelesaikan masalah.

Alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, ini menyarankan pendekatan yang dipakai untuk Aan adalah dialog. Islam, kata Gus Mis, sudah mengatur hak seseorang menjadi kafir atau kufur termasuk juga tidak percaya pada Tuhan. Aturan itu, kata Gus Mis, ada dalam Surat Al Kahfi ayat 29 yang artinya, "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".

"Dalam menghadapi kasus Aan, yang pertama harus dilihat adalah latar belakang Aan. Kedua, menasihati dia dengan cara elegan. Dirangkul, bukan dipukul," kata aktivis Nahdlatul Ulama itu.

Jika belum bisa juga menyadarkan Aan atas keberadaan Tuhan, barulah dilakukan dialog. "Sudah berhenti di sana. Biarkan Tuhan nanti yang menghakimi dia, bukan polisi," kata Misrawi.

Gus Mis sendiri melihat, ada pelajaran yang bisa dipetik dari Aan ini. Hal itu tampak dari pernyataan Aan, "Kalau memang ada Tuhan, mengapa ada kejahatan, kemiskinan."

"Kritik Aan itu atas iman kita yang mengawang-awang, tak membumikan iman untuk mewujudkan keadilan sosial," ujar Gus Mis. Dan pemerintah, kata Gus Mis, berperan besar menjawab masalah kejahatan dan kemiskinan itu, bukan justru mengadili Aan.(np)

• VIVAnews
Rating
Komentar
revinclaw
01/02/2012
mungkin yang menjadi masalah adalah beberapa gelintir "oknum" muslim, yang mengaku lebih islam, dan menghakimi saudaranya yang lain, dan menyebabkan kehancuran yang tak terperikan, sikap yang jauh dari teladan yang penuh kasih sayang baginda Rasul
Balas   • Laporkan
zubiza
30/01/2012
sayang sekali klo alasannya pilih ateis hanya krn alasan2 knp ada yg kaya dan yg miskin atau knp ada yg jahat dan yg baik, mestinya pilihan yg menyangkut hal yg mendasar begini sebaiknya didukung hal lain yg lbh berbobot..........kesian
Balas   • Laporkan
apa_aja
28/01/2012
@bambang: org itu pasti saja menuruti hawa nafsu. yg merusak ibadah itu psati ada hukumannya. dan semua sudah dihukum. fakta kamu mana? ngomong kok sakarepmu.
Balas   • Laporkan
aipai
27/01/2012
lo mo jadi atheis ato apa, ...yang penting jangan menghujat agama lain...agama lo agama lo-agama gw agama gw....
Balas   • Laporkan
anaking | 30/01/2012 | Laporkan
biasa la klo ngak ngehujat agama mayoritas ntar fanspage nya sepi
soebandrio
25/01/2012
Menjawab Alexander itu juga mudah sebenarnya, pertanyaan dia : "kalau ada Tuhan, kenapa ada yang kaya dan ada yang miskin?" mudah menjawabnya "kalau kaya semua, yang nyapu jalan siapa? kalau miskin semua yang punya pabrik memperkerjakan miskin siapa?"
Balas   • Laporkan
soebandrio | 25/01/2012 | Laporkan
Dengan kata lain Tuhan-lah yang mengizinkan strata sosial berjalan,kalau diizinkan kaya semua atau miskin semua, berjalankah struktur dan sistem sosial sekarang?? (lihat postingan komentar yg diatas)
syaiful_white
25/01/2012
Kalau mau ateis...silahkan tapi jangan bawa2 Minang. ORANG MINANG BERAGAMA ISLAM, kalau sudah keluar dari Islam, Ybs bukan lagi orang Minang, orang Sumbar bisa jadi. ATEIS tidak berhak hidup di NKRI. Silahkan cari negara lain yg cocok dg prinsip Anda !
Balas   • Laporkan
blondot2012 | 31/01/2012 | Laporkan
Lha wong dia lahir di Minang dan Bapak Ibunya orang Minang, masak dia jadi orang Jawa?
hexapro
24/01/2012
Lebih baik terus terang ngaku atheis tp ga melakukan dosa daripada ngaku beragama tapi tiap hari buat dosa. Tuhan pun ga buta dan ga bisa disogok atau dijilat pakai segala puji dan doa palsu, perbuatanlah yg jauh lebih penting, ibadah itu hanya pelengkap
Balas   • Laporkan
soebandrio | 25/01/2012 | Laporkan
Kalo menghujat orang yang berkeyakinan...kira-kira berdosa enggak mas? agak bingung dengan istilah "lebih baik atheis tapi ga melakukan dosa"..*garuk kepala*
afrizan.nurpermadi
24/01/2012
Mau ateis atau nggak, itu hak dia.. Masalah menyebarkan itu kan hak dia juga.. tinggal kita aja apkah ikut atau nggak join komunitas fb : Support Alex Aan's Human Rights
Balas   • Laporkan
syaiful_white | 25/01/2012 | Laporkan
Ingat Saudara Afrizan, Hak kita dibatasi oleh Hak-hak orang lain. Jadi kita tidak bisa hidup seenak dan semaunya sendiri tapi ada etika dan tata krama yang harus diikuti, bukan kah begitu!
amzar
23/01/2012
setuju sekali dengan pendapat komandan_hansip.. anda benar sekali.. dia bukan atheis murni.. mereka tidak suka dgn muslim dan usaha2 seperti itulah yg yg mere ka lakukan
Balas   • Laporkan
para admin dari page tentang atheis di facebook bukanlah atheis murni tetapi orang - orang yang tidak suka terhadap muslim di Indonesia ini terlihat dari koment dan photo profile mereka kalau memang atheis mengapa yang di permasalahkan mereka hanya islam
Balas   • Laporkan
syaiful_white | 25/01/2012 | Laporkan
Islam seringkali diterima dengan penafsiran yang salah oleh kalangan Non Islam. Mereka tidak mau fair mempelajari Islam dengan benar, yang diusahakan adalah memojokkan Islam dengan data dan fakta yang dimanipulasi, nauzubillah.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ