Fokus
Kolom Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo

Anggapan Keliru tentang Energi di Indonesia

Indonesia adalah negara yang kaya minyak, padahal tidak.

Selasa, 10 Januari 2012, 21:34 WIB
Karaniya Dharmasaputra, Widjajono Partowidagdo
Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)

 

VIVAnews - Terdapat beberapa anggapan yang keliru mengenai energi di Indonesia. Di antaranya, satu, Indonesia adalah negara yang kaya minyak, padahal tidak. Kita lebih banyak memiliki energi lain seperti batubara, gas, CBM (Coal Bed Methane), panas bumi, air, BBN (Bahan Bakar Nabati) dan sebagainya.

Kedua, harga BBM (Bahan Bakar Minyak) harus murah sekali, tanpa berpikir bahwa hal ini menyebabkan terkurasnya dana pemerintah untuk subsidi harga BBM. Ketergantungan kita kepada BBM yang berkelanjutan serta kepada impor minyak dan BBM makin lama makin besar serta mempersulit energi lain berkembang.

Ketiga, investor akan datang dengan sendirinya tanpa perlu kita bersikap bersahabat dan memberikan iklim investasi yang baik. Dan yang keempat, peningkatan kemampuan Nasional akan terjadi dengan sendirinya tanpa keberpihakan pemerintah.

Data Potensi Energi Nasional 2010 (Sumber: ESDM  2011) menunjukkan bahwa cadangan terbukti minyak Indonesia tinggal 3,7 miliar barel. Justru, kita lebih banyak memiliki energi non minyak. 

Migas di Indonesia

Indonesia memproduksi minyak sebesar 345 juta barel, mengekspor minyak mentah sebesar 130 juta barel, mengimpor minyak mentah sebesar 103 juta barel dan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 124 juta barel pada tahun 2010 dan mengkonsumsi 423 barel. Terdapat defisit sebesar 97 juta barel per tahun. 

Cadangan terbukti minyak kita hanya 3,7 miliar barel atau 0,3% cadangan terbukti dunia. Sebagai negara net importer minyak dan yang tidak memiliki cadangan terbukti minyak yang banyak, tidaklah bijaksana apabila kita mengikuti kebijakan harga BBM murah di negara-negara yang cadangan minyaknya melimpah.

Data Produksi & Cadangan, Revenue, Cost Recovery, R/C dan Penerimaan Negara Migas (BP Migas 2010) menujukkan bahwa penemuan cadangan minyak sedikit sekali mulai tahun 2003. Akibatnya, produksi kita turun menjadi dibawah 1 juta barel per hari. Memang, biaya (cost recovery) meningkat dari tahun ke tahun berikutnya, tetapi harga minyak, gross revenue, revenue to cost ratio dan penerimaan negara juga meningkat dari tahun ke tahun berikutnya. 

Cadangan dan produksi minyak yang turun tidak dapat diinterpretasikan bahwa minyak kita sudah habis atau prospek eksplorasi di Indonesia rendah. Di Malaysia telah ditemukan prospek Kikeh di laut dalam dengan cadangan 1 miliar BOE (barrel of oil equivalent) sehingga laut dalam di Indonesia, terutama Selat Makasar menjadi perhatian perusahaan-perusahaan raksasa. 

Proyek-proyek raksasa LNG (Liquefied Natural Gas) di Australia yang sedang dikembangkan adalah Evans Shoal, Gorgon, Ichthys, Pluto, Browse dan Bay Undan, sedangkan di Indonesia hanya Tangguh. Perlu dicatat bahwa Australia termasuk low risk dan Malaysia adalah medium risk.  

Tingginya risiko di Indonesia mengakibatkan perusahaan-perusahaan migas hanya berkonsentrasi pada mempertahankan produksi lapangan-lapangan yang sudah ada, akibatnya produksi turun. Perlu usaha untuk memperbaiki keadaan tersebut dengan mengundang investor guna meningkatkan cadangan dan produksi migas di Indonesia. 

Konversi minyak

Produksi dan cadangan terbukti minyak kita turun terus. Walaupun cadangan terbukti gas kita empat kali lipat cadangan minyak tetapi program konversi minyak ke gas domestik tidak berjalan mulus. Program 10.000 MW PLTU (uap) batubara tidak berjalan mulus dan sebagian besar produksi batubara kita diekspor. PLTA (air)  di luar Jawa kurang berkembang. Program Bahan Bakar Nabati tidak berjalan seperti yang diharapkan.  PLTS (surya) dan PLTB (bayu) banyak yang tidak berfungsi lagi. Berarti ada yang tidak pas di Negeri ini. 

Marilah kita evaluasi satu per satu.  

Minyak kurang berkembang karena sistem fiskal dan iklim investasi yang kurang menarik. Gas kurang termanfaatkan untuk domestik karena harga domestik yang tidak menarik dan tidak disiapkannya infrastruktur di masa lalu. Batubara 10.000 MW kurang berkembang karena terdapat masalah negosiasi, birokrasi dan koordinasi. Kebanyakan batubara diekspor karena harga domestik yang kurang menarik dibandingkan harga ekspor. 

PLTA kurang berkembang karena masalah birokrasi, koordinasi, promosi dan kemauan politik untuk mengembangkan industri di luar Jawa. Panasbumi kurang berkembang karena harga domestik yang tidak menarik di masa lalu. Bioenergi kurang berkembang karena masalah harga, peraturan, insentif, birokrasi, koordinasi  dan litbang. Surya dan bayu tidak terawat karena kurang dikembangkan, di samping masalah birokrasi dan koordinasi. 

Konservasi kurang berhasil karena harga energi murah, soal peraturan (kurangnya insentif untuk penghematan energi), kurangnya transportasi umum yang baik, dan kurangnya dukungan bagi litbang, serta kurangnya peningkatan kemampuan nasional untuk itu. 

Menurut International Sustainable Energy Organization (ISEO) biaya energi terbarukan--seperti energi surya, energi angin, panasbumi, arus laut dan hidrogen--akan turun di masa depan. Sedangkan biaya PLTA akan naik (walaupun masih tetap rendah). Biaya energi tak terbarukan seperti minyak, gas, batubara dan nuklir akan naik di masa depan. 

Batubara bisa lebih bersih lingkungan, meski konsekuensinya biayanya lebih mahal. 

Tidak benar kalau energi nuklir sangat aman karena di samping peristiwa Chernobyl dan Three Mile Island, di Amerika Serikat 27 dari 104 reaktor nuklirnya pernah bocor (Tobi Raikkonen, 12 Maret 2010). Menurut USA Today 17 Juli 2007 di Jepang terjadi kebocoran nuklir 1997-2007 sebanyak 8 kali. Apalagi kemudian terjadi tragedi Fukushima (2011). Banyak negara Eropa yang akan menutup PLTN-nya pada 2020. 

Penanganan dan penyimpanan limbah uranium yang benar adalah mahal dan kalau tidak benar berbahaya. Perancis bisa membantu memproses limbah uranium, tetapi limbah terakhirnya tetap dikirim ke negara asal yang mempunyai PLTN.

Andaikata nuklir ingin dikembangkan segera maka paling cepat  dioperasikan pada 2021 karena memerlukan 10 tahun untuk merealisasikan PLTN seperti di Malaysia. Sebaiknya, Indonesia bekerja sama dengan Singapura dan Malaysia--lebih baik bila juga dengan negara-negara ASEAN lainnya. Lokasi pembangkitnya bisa di pulau kosong di Indonesia, di dekat Singapura. Makin banyak negara yang mengawasi diharapkan makin aman. Makin banyak negara yang memakai, maka bakal makin murah. 

Yang perlu dilakukan

Kita masih bisa mencukupi kebutuhan energi sampai 2030 dengan menggunakan energi domestik (minyak, gas, CBM, shale gas, batubara, panasbumi, air, surya, angin, laut, biofuel dan biogas) serta mengembangkan kemampuan nasional untuk memproduksikan energi terbarukan dan konservasi energi. Bahkan, kalau perlu, mengimpor gas dan batubara (yang lebih murah dari BBM) serta mengusahakan migas di luar negeri. 

Diharapkan Pertamina dan perusahaan-perusahaan nasional migas lain dapat meningkatkan produksi migasnya baik di dalam dan di luar negeri, seperti Petronas. Di samping itu, perlu perbaikan sistem fiskal dan iklim investasi serta sistem informasi untuk meningkatkan investasi internasional migas di Indonesia. Terobosan teknologi (nano) menyebabkan energi terbarukan lebih murah di masa depan. Konservasi atau penghematan energi mengurangi pemakaian dan pasokan energi serta mengurangi polusi. Pemakaian mobil irit bensin seperti yang dihasilkan ITS dan penghematan energi lainnya perlu didukung dan dikembangkan secara nasional. 

Selain migas dan batubara perlu dikembangkan pengembangan energi fosil yang tak konvensional seperti CBM, shale gas, hydrate. Perlu pengembangan semaksimal mungkin dengan meningkatkan iklim investasi untuk panasbumi, batubara mulut tambang, panasbumi dalam, energi surya, bayu, bioenergi, laut, mikrohidro, di samping peningkatan kemampuan nasional serta penguasaan teknologinya.

Peningkatan kemampuan energi nasional wajib dilakukan. Dana dapat diperoleh dari penghematan yang diperoleh dari digantikannya BBM yang mahal dan sudah diimpor dengan energi lain yang lebih murah dan tersedia di dalam negeri (gas, batubara, panasbumi dan energi terbarukan lain). Sehingga, anjurannya bukan "jangan pakai BBM bersubsidi" tetapi sedapat mungkin "jangan pakai BBM sehingga subsidi minimum".

Ketika Harry Potter "selamat" dari Voldemore (musuhnya), Dumbledore (kepala sekolahnya): mengatakan: "Someday, you will have to choose between what is right and what is easy." Pilihan kita, mau "benar, tetapi walaupun sulit, berhasil di jangka panjang" atau mau "gampang tetapi tidak ke mana mana"? Yasadipura, kakek Ranggawarsita, mengatakan: "Waniya ing gampang, wediya ing pakewuh, sabarang nora tumeka. Sukailah kemudahan, takutilah kesulitan, maka tidak ada yang diperoleh."

***

Prof. Widjajono Partowidagdo, Ph.D., Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI 

 

• VIVAnews
Rating
Komentar
rswordman
06/02/2012
nuklir aja negara indonesia, biar hancur luluh lantah sama tanah.....
Balas   • Laporkan
counter_strike
12/01/2012
inilah indonesia, negara kaya dengan sumberdaya alamnya tetapi malah semakin miskin, karena birokrsi dan manajemen manusia sdh salah, keserakahan, permainan dan kesewenang2an nampaknya sdh m'jadi halal dinegara ini... God only knows!
Balas   • Laporkan
nasten
11/01/2012
Kalau mau berpikiran logis saya kira kita akan setuju dengan pendapat prof ini. Sayangnya banyak yang asbun dan kurang informasi. Sudah saatnua lepas dari subsidi karena konsumsi migas indonesia akan terus naik seiring perbaikan ekonomi.
Balas   • Laporkan
riderman | 12/01/2012 | Laporkan
@counter_strike: manusia gak akan pernah bisa jujur? kayanya situ doang deh, situ tukang tipu yah, hahaha. makanya situ berpikir dengan logis tapi gak setuju dgn prof, logika tipuan sih.
riderman | 12/01/2012 | Laporkan
@counter_strike memang indonesia punya minyak sebanyak apa menurut anda? minyak itu SDA tak terbarukan, kalo dikonsumsi terus yah lama-lama abis lah. Kecuali nemu resource baru. masalahnya laju penambahan reserves kita jauh lebih sedikit dibanding laju pr
counter_strike | 12/01/2012 | Laporkan
manusia ga akan pernah bisa jujur! tidak mungkin negara kaya seperti indonesia ini hanya punya minyak segitu,pasti telah banyak yg dipermainkan ke pihak lain, kita ga akan percaya sebelum melihat langsung.
bembenks789
11/01/2012
maksudnya "tinggal" sedikit, soalnya sudah disedot oleh asing semua. tinggallah sisanya untuk indonesia. itupun dalam pembagian hasilnya dulu udah ditipu2 asing, stok minyanya sekian di laporin cuma 1 % nya doank. nasib....nasib
Balas   • Laporkan
podoredjo | 16/01/2012 | Laporkan
ayok bareng2 tongkrongi lepas pantai Kaltim di rekam video hitung berapa tangker yg keluar masuk hihi ... baru satu tempat
riderman | 12/01/2012 | Laporkan
Situ bisa ngomong gitu dasarnya apa? asal njeplak doang yah? bah bisanya cuma asal njeplak aja gak mau cari-cari data pendukung dulu. Coba mas Bambang baca UU, bagi hasil pemerintah 85% dan kontraktor 15%.
riderman | 12/01/2012 | Laporkan
Iihh.. kamu sotoy bgt deh, mending kaya sherlock holmes sotoy tapi bener, ini udah sotoy tapi salah, modal asal njeplak. Tipikal org Indonesia deh, asal njeplak gak cari tau dulu. Tolong baca UU dulu mas bambang, bagi hasil pemerintah 85% kontraktor 15%.
grayak
11/01/2012
pak wamen benar ,, orang2 kita itu manja2.. maunya enak enakan aja .. semua harus dipikir pemerintah. dan aneh nya suka ngritik tapi gak jelas, pokoknya serba salah.. buat pak wamen , lanjudkan ide idenya
Balas   • Laporkan
ady_soka
11/01/2012
Hem,.LHADALA ! Bener tuh ! Jangan sok ilmiah ah ! Coba kita tanyakan kebenarannya kepada Pak Dahlan Iskan.Saya sih baru percaya kalau di-iyakan oleh menteri BUMN itu.Soalnya pak Dahlan itu orangnya bener,jujur,sederhana n mau mengabdi utk kep.rakyat...
Balas   • Laporkan
riderman | 12/01/2012 | Laporkan
Bah, gw mah gak percaya sama politisi yg modal politik pencitraan doang, baru kaya gitu aja udah spoiled lo. Gw lebih percaya akademisi lah, lebih ilmiah lebih berdasar dan jujur sesuai data. Btw, pak DI kan ex dirut PLN yah, coba tanya temen yg pegawai P
nasten | 11/01/2012 | Laporkan
Dalam mengambil keputusan butuh analisis ilmiah atau anda akan trial dan error. Dahlan iskan butuh orang ilmiah buat ngambil keputusan. Saya kira anda perlu banyak belajar.
grayak | 11/01/2012 | Laporkan
Prof. Widjajono Partowidagdo, Ph.D memang orang ilmiah.. apa sih salahnya? sampai sgitunya gak percaya
yayak94
11/01/2012
yg keliru adalah orang macam Pak Wamen yg Prof. Di negara Timteng, Afrika, Venezuela dan di Malaysia kekayaan negara atas minyak membuat rakyat sejahtera. Adakah beliau juga berperan membebani ortu melalui uang masuk ITB reguler Rp 55 jt?
Balas   • Laporkan
lammm077 | 12/01/2012 | Laporkan
di ITB. No free lunch, selalu ada jalan untuk orang yang mau berusaha dan membuka pikiran. Thanks.
lammm077 | 12/01/2012 | Laporkan
ITB mahal? berapa kasus yang DO karena kekurangan biaya? kalau sudah masuk banyak beasiswa (tiap tahunnya >70 instansi ngasih beasiswa) Sebenarnya banyak beasiswa masuk ITB seperti BIUS dan BIDIK MISI. Nggak ada istilah orang miskin nggak bisa belajar d
no_see234
11/01/2012
Betul Pak..kita terlanjur manja..dikit2 pake motor..demo mahasiswa dan buruh pun pake motor, arogan pula.. kalau sudah tau mahal hemat donk!!..
Balas   • Laporkan
babonn
11/01/2012
Indonesia yg berada di daerah tropis, di khatulistiwa dimana matahari banyak. Mungkin PLTS (surya) yg paling ideal di masa datang.
Balas   • Laporkan
salomo
11/01/2012
Kesimpulannya NEGERI KITA INI SUDAH SALAH URUS bapak Professor,,..,.,.,.,.,.,.,....,. dan Negara takut dengan ........................ dan tidak tegas. Just it ndak usah macam macamlah
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ